Pages

Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Oktober 2010

^Bolehkah Mengatakan "Ukhty, saya mencintaimu karena Allah, tapi...^


Saya jadikan note karena jawaban dari Abu Achmed Abdillah Al-Atsary insya Allah membawa kebaikan bagi kita yang mungkin ada yang belum paham. Wallahu a'lam.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya jika seorang wanita atau laki2 mengaku bahwa jatuh cinta kepada orang tersebut?

Pertama, hubungan cinta kepada kepada non mahram secara umum adalah terlarang, tidak boleh seseorang itu menjalin cinta tanpa ada ikatan yang murni dan suci yaitu pernikahan. Kalau kita istilahkan bercinta sebelum menikah adalah pacaran, maka berarti dia telah menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri hal-hal tersebut. Karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syari'at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma).

Dan para ulama kita telah mejelaskan bahwa bercinta sebelum menikah adalah menghampiri zina dan hukumnya adalah HARAM.

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Beliau bersabda: "Telah ditulis atas anak adam nashibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya atau didustakan." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa'i).

Apa maksud hadits ini?Bahwa hati bisa berzina dengan merindui, mengingati dan membayangi wanita yang dicintainya, kemudian di ikuti pula oleh farjinya (kemaluannya) yang membenarkannya.

NB:

Bercinta disini maksudnya bukan berhubungan seks, tapi maksudnya adalah mencintai lawan jenis diluar nikah.

Kedua, cinta karena Allah...

Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.

Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya. Orang yang berada disamping Rasulullah itu tiba-tiba berkata "Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“"Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?“, tanya Nabi."belum" jawab orang itu.Rasulullah shallalahu alaihi wasallam berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“.Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya. "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.“Dengan serta merta orang itu menjawab, Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya“. (HR. Abu dawud)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) hendaklah dia memberitahukan (kepadanya)“ (HR. Abu dawud dan Tarmidzi). Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam sering menganjurkan para sahabatnya untuk menyatakan rasa kasih sayang terhadap sahabat lainnya.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana is mencintai dirinya sendiri.” ( HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

Dari keterangan diatas disimpulkan bahwa seseorang boleh mencintai saudaranya dengan syarat karena Allah ta'ala, perwujudan cinta karena Allah antara lain:

Mendoakan dan meminta doa dari saudaranya . Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barang siapa yang mendoakan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasinya berkata, “Semoga Allah mengabulkan; dan bagimu semoga mendapat yang sepadan.” (HR. Muslim).

Mengunjungi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi karena Allah, setelah mencintai-Nya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu berkata, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu berkata, “Sesunggunya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” (HR. Muslim)

Berusaha membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sungguh menghilangkan kesusahannya, memberikan dan menerima hadiah saudaranya serta membalasnya. Demikian perwujudan rasa cinta kepada saudaranya karena Allah.

Kalau ada yang mengaku jatuh cinta kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan dalih cinta karena Allah, maka dilihat orang itu apakah dia datang dengan maksud untuk melamarnya atau tidak? Kalau hanya sekedar ungkapan sementara dia tidak kunjung datang kerumah untuk melamarnya maka hal ini tidak diperbolehkan, berarti dia telah berdusta dalam hatinya. Kalau dia berdalih mencintainya karena Allah, hendaknya dia mewujudkannya dengan datang dan melamarnya. Bagi akhwat yang mendapat pengakuan ikhwan yang mencintainya sedangkan ikhwan itu tidak kunjung datang melamarnya hendaklah berhati-hati darinya, jauhilah ikhwan tersebut, sesungguhnya dia buka laki-laki yang baik, hatinya telah berzina dan diliputi oleh nafsu syahwat, wallahu Ta'ala a'lam...

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/bolehkah-mengatakan-ukhty-saya.html


Saya jadikan note karena jawaban dari Abu Achmed Abdillah Al-Atsary insya Allah membawa kebaikan bagi kita yang mungkin ada yang belum paham. Wallahu a'lam.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya jika seorang wanita atau laki2 mengaku bahwa jatuh cinta kepada orang tersebut?

Pertama, hubungan cinta kepada kepada non mahram secara umum adalah terlarang, tidak boleh seseorang itu menjalin cinta tanpa ada ikatan yang murni dan suci yaitu pernikahan. Kalau kita istilahkan bercinta sebelum menikah adalah pacaran, maka berarti dia telah menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri hal-hal tersebut. Karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syari'at.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma).

Dan para ulama kita telah mejelaskan bahwa bercinta sebelum menikah adalah menghampiri zina dan hukumnya adalah HARAM.

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Beliau bersabda: "Telah ditulis atas anak adam nashibnya (bagiannya) dari zina, maka dia pasti menemuinya, zina kedua matanya adalah memandang, zina kakinya adalah melangkah, zina hatinya adalah berharap dan berangan-angan, dan dibenarkan yang demikian oleh farjinya atau didustakan." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa'i).

Apa maksud hadits ini?Bahwa hati bisa berzina dengan merindui, mengingati dan membayangi wanita yang dicintainya, kemudian di ikuti pula oleh farjinya (kemaluannya) yang membenarkannya.

NB:

Bercinta disini maksudnya bukan berhubungan seks, tapi maksudnya adalah mencintai lawan jenis diluar nikah.

Kedua, cinta karena Allah...

Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.

Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya. Orang yang berada disamping Rasulullah itu tiba-tiba berkata "Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“"Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?“, tanya Nabi."belum" jawab orang itu.Rasulullah shallalahu alaihi wasallam berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“.Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya. "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.“Dengan serta merta orang itu menjawab, Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya“. (HR. Abu dawud)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) hendaklah dia memberitahukan (kepadanya)“ (HR. Abu dawud dan Tarmidzi). Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam sering menganjurkan para sahabatnya untuk menyatakan rasa kasih sayang terhadap sahabat lainnya.

Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana is mencintai dirinya sendiri.” ( HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

Dari keterangan diatas disimpulkan bahwa seseorang boleh mencintai saudaranya dengan syarat karena Allah ta'ala, perwujudan cinta karena Allah antara lain:

Mendoakan dan meminta doa dari saudaranya . Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barang siapa yang mendoakan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasinya berkata, “Semoga Allah mengabulkan; dan bagimu semoga mendapat yang sepadan.” (HR. Muslim).

Mengunjungi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi karena Allah, setelah mencintai-Nya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu berkata, “Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.” Malaikat berkata, “Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?” Ia berkata, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu berkata, “Sesunggunya aku adalah utusan Allah kepadamu. Aku diperintahkan untuk mengatakan bahwa Allah sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena Allah.” (HR. Muslim)

Berusaha membantu kebutuhan saudaranya dan bersungguh-sungguh menghilangkan kesusahannya, memberikan dan menerima hadiah saudaranya serta membalasnya. Demikian perwujudan rasa cinta kepada saudaranya karena Allah.

Kalau ada yang mengaku jatuh cinta kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan dalih cinta karena Allah, maka dilihat orang itu apakah dia datang dengan maksud untuk melamarnya atau tidak? Kalau hanya sekedar ungkapan sementara dia tidak kunjung datang kerumah untuk melamarnya maka hal ini tidak diperbolehkan, berarti dia telah berdusta dalam hatinya. Kalau dia berdalih mencintainya karena Allah, hendaknya dia mewujudkannya dengan datang dan melamarnya. Bagi akhwat yang mendapat pengakuan ikhwan yang mencintainya sedangkan ikhwan itu tidak kunjung datang melamarnya hendaklah berhati-hati darinya, jauhilah ikhwan tersebut, sesungguhnya dia buka laki-laki yang baik, hatinya telah berzina dan diliputi oleh nafsu syahwat, wallahu Ta'ala a'lam...

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/bolehkah-mengatakan-ukhty-saya.html

»»  READMORE...

^WANDU (Wanita Durhaka)^


Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah. Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terka dang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan istri bagi kita, agar kita merasa tentram dan tenang kepadanya. Sebagaimana firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-

"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum :21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, "Kemudian diantara kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak cucu Adam, Allah menciptakan pasangan mereka dari jenis mereka, dan Allah ciptakan diantara mereka mawaddah (yakni, cinta), dan rahmat (yakni, kasih sayang). Sebab seorang suami akan mempertahankan istrinya karena cinta kepadanya atau sayang kepadanya dengan jalan wanita mendapatkan anak dari suami, atau ia butuh kepada suaminya dalam hal nafkah, atau karena kerukunan antara keduanya, dan sebagainya". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/568)]

Jadi, maksud adanya pernikahan adalah untuk menciptakan kecenderungan (ketenangan), kasih sayang, dan cinta. Sebab seorang istr i akan menjadi penyejuk mata, dan penenang di kala timbul problema. Namun, jika istri itu durhaka lagi membangkang kepada suaminya, maka alamat kehancuran ada didepan mata. Dia tidak lagi menjadi penyejuk hati, tapi menjadi musibah dan neraka bagi suaminya.

Kedurhakaan seorang istri kepada suaminya amat banyak ragam dan bentuknya, seperti mencaci-maki suami, mengangkat suara depan suami, membuat suami jengkel, berwajah cemberut depan suami, menolak ajakan suami untuk jimak, membenci keluarga suami, tidak mensyukuri (mengingkari) kebaikan, dan pemberian suami, tidak mau mengurusi rumah tangga suami, selingkuh, berpacaran di belakang suami, keluar rumah tanpa izin suami, dan sebagainya.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- telah mengancam istri yang durhaka kepada suaminya melalui lisan Rasul-Nya ketika Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ

"Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suami nya" .[HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (289)]

Tipe wanita seperti ini banyak disekitar kita. Suami yang capek banting tulang setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhannya, namun masih saja tetap berkeluh kesah dan tidak puas dengan penghasilan suaminya. Ia selalu membanding-bandingkan suaminya dengan orang lain, sehingga hal itu menjadi beban yang berat bagi suaminya. Maka tidak heran jika neraka dipenuhi dengan wanita-wanita seperti ini, sebagaimana sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ , قال: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ , لَوْ أَحْسَنْتَ إَلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ , ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْراً قَطُّ

"Telah diperlihatkan neraka kepadak u, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!" Ada yang bertanya, "apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?" Rasullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, "Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu". [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (29), dan Muslim dalam Shohih-nya (907)]

Pembaca yang budiman, jika para wand u mengetahui betapa besar kedudukan seorang suami di sisinya, maka mereka tidak akan berani durhaka dan membangkang kepada suaminya. Cobalah tengok hadits Hushain bin Mihshon ketika ia berkata, "Bibiku telah menceritakan kepadaku seraya berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَعْضِ الْحَاجَةِ, قَالَ: (أَيْ هَذِهِ أَذَاتُ بَعْلٍ أَنْتِ), قُلْتُ : (نَعَمْ), قَالَ: (فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ), قَالَتْ: (مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ), قال: (فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ)

"Saya mendatangi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk suatu keperluan. Beliau bertanya:"siapakah ini? Apakah sudah bersuami?."sudah!", jawabku. "Bagaimana hubungan engkau dengannya?", tanya Rasulullah. "Sa ya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku". Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu denganya, sebab suamimu adalah surgamu, dan nerakamu". [HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2612), dan Adab Az-Zifaf (hal. 213)]

Dari hadits ini, kita telah mengetahui betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi seorang istri sampai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

"Sekiranya aku memerintahkan seseora ng untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya" . [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]

Jika seorang istri tidak memenuhi hak-hak tersebut atau durhaka kepada suami, maka ia mendapatkan ancaman dari Allah -Ta’ala- lewat lisan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

اِثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا : عَبْدٌ أَبَقَ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

"Ada dua orang yang sholatnya tidak melampaui kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai ia kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya sampai ia mau rujuk (taubat)". [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shog hir (478), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7330)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ اْلآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ , وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ

"Ada tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya: Hamba yang lari sampai ia mau kembali, wanita yang bermalam, sedang suaminya marah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum, sedang mereka benci kepadanya". [HR. At-Tirmidziy (360). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1122)]

Ini merupakan ancaman yang amat k eras bagi para wandu (wanita durhaka), karena kedurhakaannya menjadi sebab tertolaknya amal sholatnya di sisi Allah. Dia sholat hanya sekedar melaksanakan kewajiban di hadapan Allah. Adapun pahalanya, maka ia tak akan mendapatkannya, selain lelah dan capek saja. Wal’iyadzu billahmin dzalik.

Al-Imam As-Suyuthiy-rahimahullah- berkata dalam Quuth Al-Mughtadziy saat menjelaskan kandungan dua hadits di atas, "Maksudnya, sholatnya tak terangkat ke langit sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ibnu Majah, "Sholat mereka tak akan terangkat sejengkal di atas kepala mereka". Ini merupakan per umpamaan tentang tidak diterimanya amal sholatnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ath-Thobroniy, "Allah tak akan menerima sholat mereka" sampai ia rujuk (kembali)…" [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (2/291)]

Diantara bentuk kedurhakaan seorang istri kepada suaminya, enggannya seorang istri untuk memenuhi hajat biologis suaminya. K eengganan seorang istri dalam melayani suaminya, lalu suami murka dan jengkel merupakan sebab para malaikat melaknat istri yang durhaka seperti ini. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا دَعَا الَّرُجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi". [HR. Al-Bukhoriy Kitab Bad'il Kholq (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)]

Seorang suami saat ia butuh pelaya nan biologis (jimak) dari istrinya, maka seorang istri tak boleh menolak hajat suaminya, bahkan ia harus berusaha sebisa mungkin memenuhi hajatnya, walaupun ia capek atau sibuk dengan suatu urusan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا, وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

"Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Robb-nya sampai ia mau memenuhi h ak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam sekedup, maka ia (istri) tak boleh menghalanginya". [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 211)]

Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para wanita yang bersuami agar memperhatikan suaminya saat-saat ia dibutuhkan oleh suaminya. Sebab kebanyakan problema rumah tangga timbul dan berawal dari masalah kurangnya perhatian istri atau suami kepada keb utuhan biologis pasangannya, sehingga "solusinya" (baca: akibatnya) munculllah kemarahan, dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Adab Az-Zifaf (hal. 210), "Jika wajib bagi seorang istri untuk mentaati suaminya dalam hal pemenuhan biologis (jimak), maka tentunya lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suami dalam perkara yang lebih penting dari itu, seperti mendidik anak, memperbaiki (mengurusi) rumah tangga, dan sejenisnya diantara hak dan kewajibannya".

Seorang wanita yang durhaka kepada suaminya, akan selalu dibenci oleh suaminya, bahkan ia akan dibenci oleh istri suaminya dari kalangan bidadari di surga. Istri bidadari ini akan marah. Saking marahnya, ia mendoakan kejelekan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya..

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, "Janganlah engkau menyakiti nya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami". [HR. At-Tirmidziy Kitab Ar-Rodho' (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 212)]

Cukuplah beberapa hadits yang kami bacakan dan nukilkan kepada Anda tentang bahayanya seorang wanita melakukan kedurhakaan kepada suaminya, yakni tak mau taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf (boleh) menurut syari’at. Semoga wanita-wanita yang durhaka kepada suaminya mau kembali berbakti, dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Pada hari itulah penyesalan tak lagi bermanfaat baginya.

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 84 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.


sumber :

http://almakassari.com/artikel-islam/muslimah/wandu-wanita-durhaka.html

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/wandu-wanita-durhaka.html


Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah. Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terka dang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan istri bagi kita, agar kita merasa tentram dan tenang kepadanya. Sebagaimana firman Allah -Subhanahu wa Ta’la-

"Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ruum :21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, "Kemudian diantara kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak cucu Adam, Allah menciptakan pasangan mereka dari jenis mereka, dan Allah ciptakan diantara mereka mawaddah (yakni, cinta), dan rahmat (yakni, kasih sayang). Sebab seorang suami akan mempertahankan istrinya karena cinta kepadanya atau sayang kepadanya dengan jalan wanita mendapatkan anak dari suami, atau ia butuh kepada suaminya dalam hal nafkah, atau karena kerukunan antara keduanya, dan sebagainya". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (3/568)]

Jadi, maksud adanya pernikahan adalah untuk menciptakan kecenderungan (ketenangan), kasih sayang, dan cinta. Sebab seorang istr i akan menjadi penyejuk mata, dan penenang di kala timbul problema. Namun, jika istri itu durhaka lagi membangkang kepada suaminya, maka alamat kehancuran ada didepan mata. Dia tidak lagi menjadi penyejuk hati, tapi menjadi musibah dan neraka bagi suaminya.

Kedurhakaan seorang istri kepada suaminya amat banyak ragam dan bentuknya, seperti mencaci-maki suami, mengangkat suara depan suami, membuat suami jengkel, berwajah cemberut depan suami, menolak ajakan suami untuk jimak, membenci keluarga suami, tidak mensyukuri (mengingkari) kebaikan, dan pemberian suami, tidak mau mengurusi rumah tangga suami, selingkuh, berpacaran di belakang suami, keluar rumah tanpa izin suami, dan sebagainya.

Allah -Subhanahu wa Ta’la- telah mengancam istri yang durhaka kepada suaminya melalui lisan Rasul-Nya ketika Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِيْ عَنْهُ

"Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan suaminya padahal ia selalu butuh kepada suami nya" .[HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (9135 & 9136), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (2349), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2771), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (289)]

Tipe wanita seperti ini banyak disekitar kita. Suami yang capek banting tulang setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhannya, namun masih saja tetap berkeluh kesah dan tidak puas dengan penghasilan suaminya. Ia selalu membanding-bandingkan suaminya dengan orang lain, sehingga hal itu menjadi beban yang berat bagi suaminya. Maka tidak heran jika neraka dipenuhi dengan wanita-wanita seperti ini, sebagaimana sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ , قال: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ , لَوْ أَحْسَنْتَ إَلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ , ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا, قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْراً قَطُّ

"Telah diperlihatkan neraka kepadak u, kulihat mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka telah kufur (ingkar)!" Ada yang bertanya, "apakah mereka kufur (ingkar) kepada Allah?" Rasullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, "Tidak, mereka mengingkari (kebaikan) suami. Sekiranya kalian senantiasa berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang hidupnya, lalu ia melihat sesuatu yang tidak berkenan, ia (istri durhaka itu) pasti berkata, "Saya sama sekali tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu". [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (29), dan Muslim dalam Shohih-nya (907)]

Pembaca yang budiman, jika para wand u mengetahui betapa besar kedudukan seorang suami di sisinya, maka mereka tidak akan berani durhaka dan membangkang kepada suaminya. Cobalah tengok hadits Hushain bin Mihshon ketika ia berkata, "Bibiku telah menceritakan kepadaku seraya berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَعْضِ الْحَاجَةِ, قَالَ: (أَيْ هَذِهِ أَذَاتُ بَعْلٍ أَنْتِ), قُلْتُ : (نَعَمْ), قَالَ: (فَكَيْفَ أَنْتِ لَهُ), قَالَتْ: (مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ), قال: (فَأَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ, فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ)

"Saya mendatangi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk suatu keperluan. Beliau bertanya:"siapakah ini? Apakah sudah bersuami?."sudah!", jawabku. "Bagaimana hubungan engkau dengannya?", tanya Rasulullah. "Sa ya selalu mentaatinya sebatas kemampuanku". Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Perhatikanlah selalu bagaimana hubunganmu denganya, sebab suamimu adalah surgamu, dan nerakamu". [HR. An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (8963), Ahmad dalam Al-Musnad (4/341/no. 19025), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2612), dan Adab Az-Zifaf (hal. 213)]

Dari hadits ini, kita telah mengetahui betapa besar dan agungnya hak-hak suami yang wajib dipenuhi seorang istri sampai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

لَوْ كُنْتُ آمُرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

"Sekiranya aku memerintahkan seseora ng untuk sujud kepada lainnya, niscaya akan kuperintahkan seorang istri sujud kepada suaminya" . [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (1159), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (1998)]

Jika seorang istri tidak memenuhi hak-hak tersebut atau durhaka kepada suami, maka ia mendapatkan ancaman dari Allah -Ta’ala- lewat lisan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

اِثْنَانِ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمَا رُؤُوْسَهُمَا : عَبْدٌ أَبَقَ مِنْ مَوَالِيْهِ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

"Ada dua orang yang sholatnya tidak melampaui kepalanya: budak yang lari dari majikannya sampai ia kembali, dan wanita yang durhaka kepada suaminya sampai ia mau rujuk (taubat)". [HR. Ath-Thobroniy dalam Ash-Shog hir (478), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (7330)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ اْلآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ , وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ , وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ

"Ada tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinganya: Hamba yang lari sampai ia mau kembali, wanita yang bermalam, sedang suaminya marah kepadanya, dan seorang pemimpin kaum, sedang mereka benci kepadanya". [HR. At-Tirmidziy (360). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1122)]

Ini merupakan ancaman yang amat k eras bagi para wandu (wanita durhaka), karena kedurhakaannya menjadi sebab tertolaknya amal sholatnya di sisi Allah. Dia sholat hanya sekedar melaksanakan kewajiban di hadapan Allah. Adapun pahalanya, maka ia tak akan mendapatkannya, selain lelah dan capek saja. Wal’iyadzu billahmin dzalik.

Al-Imam As-Suyuthiy-rahimahullah- berkata dalam Quuth Al-Mughtadziy saat menjelaskan kandungan dua hadits di atas, "Maksudnya, sholatnya tak terangkat ke langit sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ibnu Majah, "Sholat mereka tak akan terangkat sejengkal di atas kepala mereka". Ini merupakan per umpamaan tentang tidak diterimanya amal sholatnya sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas di sisi Ath-Thobroniy, "Allah tak akan menerima sholat mereka" sampai ia rujuk (kembali)…" [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (2/291)]

Diantara bentuk kedurhakaan seorang istri kepada suaminya, enggannya seorang istri untuk memenuhi hajat biologis suaminya. K eengganan seorang istri dalam melayani suaminya, lalu suami murka dan jengkel merupakan sebab para malaikat melaknat istri yang durhaka seperti ini. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِذَا دَعَا الَّرُجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

"Jika seorang suami mengajak istrinya (berjimak) ke tempat tidur, lalu sang istri enggan, dan suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknat sang istri sampai pagi". [HR. Al-Bukhoriy Kitab Bad'il Kholq (3237), dan Muslim dalam Kitab An-Nikah (1436)]

Seorang suami saat ia butuh pelaya nan biologis (jimak) dari istrinya, maka seorang istri tak boleh menolak hajat suaminya, bahkan ia harus berusaha sebisa mungkin memenuhi hajatnya, walaupun ia capek atau sibuk dengan suatu urusan. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا, وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

"Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, seorang istri tak akan memenuhi hak Robb-nya sampai ia mau memenuhi h ak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (untuk berjimak), sedang ia berada dalam sekedup, maka ia (istri) tak boleh menghalanginya". [HR. Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (1853). Hadits ini dikuatkan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 211)]

Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan bimbingan kepada para wanita yang bersuami agar memperhatikan suaminya saat-saat ia dibutuhkan oleh suaminya. Sebab kebanyakan problema rumah tangga timbul dan berawal dari masalah kurangnya perhatian istri atau suami kepada keb utuhan biologis pasangannya, sehingga "solusinya" (baca: akibatnya) munculllah kemarahan, dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Adab Az-Zifaf (hal. 210), "Jika wajib bagi seorang istri untuk mentaati suaminya dalam hal pemenuhan biologis (jimak), maka tentunya lebih wajib lagi baginya untuk mentaati suami dalam perkara yang lebih penting dari itu, seperti mendidik anak, memperbaiki (mengurusi) rumah tangga, dan sejenisnya diantara hak dan kewajibannya".

Seorang wanita yang durhaka kepada suaminya, akan selalu dibenci oleh suaminya, bahkan ia akan dibenci oleh istri suaminya dari kalangan bidadari di surga. Istri bidadari ini akan marah. Saking marahnya, ia mendoakan kejelekan bagi wanita yang durhaka kepada suaminya..

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

"Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, "Janganlah engkau menyakiti nya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami". [HR. At-Tirmidziy Kitab Ar-Rodho' (1174), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah (2014). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Adab Az-Zifaf (hal. 212)]

Cukuplah beberapa hadits yang kami bacakan dan nukilkan kepada Anda tentang bahayanya seorang wanita melakukan kedurhakaan kepada suaminya, yakni tak mau taat kepada suami dalam perkara-perkara yang ma’ruf (boleh) menurut syari’at. Semoga wanita-wanita yang durhaka kepada suaminya mau kembali berbakti, dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Pada hari itulah penyesalan tak lagi bermanfaat baginya.

Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 84 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.


sumber :

http://almakassari.com/artikel-islam/muslimah/wandu-wanita-durhaka.html

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/wandu-wanita-durhaka.html

»»  READMORE...

Kamis, 28 Oktober 2010

Kemerduan Suara Seorang Wanita…


Teman – teman muslimah yang baik, semoga kalian selalu dalam perlindungan Allah ‘azza wa jalla dalam setiap nafas yang kau hembuskan, dalam setiap senyum yang kau uraikan serta dalam setiap langkah yang kau hentakkan…

Kami sungguh prihatin terhadap apa yang dialami oleh sebagian teman – teman muslimah akhir – akhir ini. Betapa tidak, ibunda serta adik penulis adalah seorang wanita yang tentu memiliki berbagai kesamaan karakter layaknya teman – teman muslimah lainnya. Keprihatinan ini muncul setelah penulis sempat tinggal & menghirup udara kota Denpasar – Bali selama kurang lebih 17 hari.

Sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa betapa banyak wanita di zaman ini yang merelakan dirinya menjadi bahan eksploitasi di setiap agenda dan seakan – akan tidaklah lengkap suatu acara tanpa kehadiran seorang wanita. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi bulan – bulanan pandangan pria bahkan kini suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah…Berawal dari keprihatinan inilah, penulis merasa ingin mengintip dan mengutip yang telah digoreskan oleh para panutan kita dari kalangan ulama kaum muslimin tentang untaian nasehat yang semoga kehadirannya bisa menyentuh kalbu-mu dan mengembalikan kemuliaanmu…

Teman – temanku Muslimah….

Suara manis dan tawa candamu sangatlah sering kita dengarkan di sekitar, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila engkau berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utama kalian adalah suara yang indah dan merdu.

Begitu mudahnya engkau memperdengarkan suaramu yang bagaikan buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Rabb-mu Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan: Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf. (Al Ahzab: 32)

Seorang panutanmu yaitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bertutur padamu: Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dlm buku Ash Shahihul Musnad, 2/36).

Ketahuilah teman muslimah yang baik… kalian diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila engkau memperdengarkan suaramu, kemudian dengan suaramu tergodalah para lelaki, maka seharusnya engkau menghentikan ucapan kalian. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah saat haji, kemudian ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, namun cukup bagi kalian menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)

Ketahuilah teman – teman muslimah…

ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.

Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan untukmu di dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).

Merdu suaramu dari balik handphonemu…(ikhwan juga penting!!!)

Teman – teman yang baik…

tidaklah dilarang bagi seorang lelaki berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara wanita atau terus-menerus berbincang-bincang karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya. (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

Kemudian mengajak bicara wanita secara langsung tidaklah menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berjilbab rapi sesuai tuntunan dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

Seorang ulama dari negeri Saudi Arabia, ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwa beliau tentang permasalahan ini: Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)

Bagaimana jika laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya…???

Teman – teman yang baik…kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya seringkali menganggap hubungan mereka telah setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang seakan – akan diperbolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?

Guru kita, Al faqih Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab permasalahan ini:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605)

Nah…semoga apa yang penulis kutipkan dari tulisan para ulama ini bisa membawa manfaat bagi teman – teman terlebih bagi saudariku muslimah. Semoga Allah ta’ala senantiasa menjagamu dan melembutkan hatimu untuk selalu berada dalam naungan Ilmu…wahai ukhtuna fillah…

Ditulis di Denpasar, Rabu 30 Juli ’08 pkl. 18.30 WITA

sumber :

http://fitrahfitri.wordpress.com/2008/07/30/kemerduan-suara-seorang-wanita%E2%80%A6/



Teman – teman muslimah yang baik, semoga kalian selalu dalam perlindungan Allah ‘azza wa jalla dalam setiap nafas yang kau hembuskan, dalam setiap senyum yang kau uraikan serta dalam setiap langkah yang kau hentakkan…

Kami sungguh prihatin terhadap apa yang dialami oleh sebagian teman – teman muslimah akhir – akhir ini. Betapa tidak, ibunda serta adik penulis adalah seorang wanita yang tentu memiliki berbagai kesamaan karakter layaknya teman – teman muslimah lainnya. Keprihatinan ini muncul setelah penulis sempat tinggal & menghirup udara kota Denpasar – Bali selama kurang lebih 17 hari.

Sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa betapa banyak wanita di zaman ini yang merelakan dirinya menjadi bahan eksploitasi di setiap agenda dan seakan – akan tidaklah lengkap suatu acara tanpa kehadiran seorang wanita. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi bulan – bulanan pandangan pria bahkan kini suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah…Berawal dari keprihatinan inilah, penulis merasa ingin mengintip dan mengutip yang telah digoreskan oleh para panutan kita dari kalangan ulama kaum muslimin tentang untaian nasehat yang semoga kehadirannya bisa menyentuh kalbu-mu dan mengembalikan kemuliaanmu…

Teman – temanku Muslimah….

Suara manis dan tawa candamu sangatlah sering kita dengarkan di sekitar, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila engkau berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utama kalian adalah suara yang indah dan merdu.

Begitu mudahnya engkau memperdengarkan suaramu yang bagaikan buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Rabb-mu Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan: Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf. (Al Ahzab: 32)

Seorang panutanmu yaitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bertutur padamu: Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dlm buku Ash Shahihul Musnad, 2/36).

Ketahuilah teman muslimah yang baik… kalian diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila engkau memperdengarkan suaramu, kemudian dengan suaramu tergodalah para lelaki, maka seharusnya engkau menghentikan ucapan kalian. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah saat haji, kemudian ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, namun cukup bagi kalian menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)

Ketahuilah teman – teman muslimah…

ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.

Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan untukmu di dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).

Merdu suaramu dari balik handphonemu…(ikhwan juga penting!!!)

Teman – teman yang baik…

tidaklah dilarang bagi seorang lelaki berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara wanita atau terus-menerus berbincang-bincang karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya. (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

Kemudian mengajak bicara wanita secara langsung tidaklah menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berjilbab rapi sesuai tuntunan dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).

Seorang ulama dari negeri Saudi Arabia, ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwa beliau tentang permasalahan ini: Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)

Bagaimana jika laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya…???

Teman – teman yang baik…kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya seringkali menganggap hubungan mereka telah setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang seakan – akan diperbolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?

Guru kita, Al faqih Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab permasalahan ini:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605)

Nah…semoga apa yang penulis kutipkan dari tulisan para ulama ini bisa membawa manfaat bagi teman – teman terlebih bagi saudariku muslimah. Semoga Allah ta’ala senantiasa menjagamu dan melembutkan hatimu untuk selalu berada dalam naungan Ilmu…wahai ukhtuna fillah…

Ditulis di Denpasar, Rabu 30 Juli ’08 pkl. 18.30 WITA

sumber :

http://fitrahfitri.wordpress.com/2008/07/30/kemerduan-suara-seorang-wanita%E2%80%A6/


»»  READMORE...

Wanita adalah Madrasah Pertama

Ulama Salaf (terdahulu) rahimahullah berkata, didalam syairnya :“Ibu adalah sekolah pertama.Maka persiapkanlah sebaik – baik nya”

Ini adalah jawaban terhadap pertanyaan yang dimuat didalam majalah Al-Jail, Riyadh. Saudi Arabia, seputar kedudukan wanita di dalam Islam.

Dijawab oleh yang Mulia, Mufti Saudi Arabia, Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata :

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta segenap orang yang menelusuri jejak ajaran mereka hingga hari pembalasan, wa ba’du.

Sesungguhnya wanita muslimah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap Muslim. Dialah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih, Jika ia berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap Muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu.

Kesesatan bangsa-bangsa dan penyimpangannya tidak akan terjadi kecuali karena mereka menjauh dari ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ajaran yang diajarkan oleh para nabi dan rasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah NabiNya (Hadits)” [Diriwayatkan Imam Malik didalam Kitab Al-Muwaththa’]

Didalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kaum wanita sebagai ibu, sebagai istri, sebagai saudara dan sebagai anak. Mereka juga mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban, sedangkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfungsi menjelaskan secara detail.

Urgensi atau pentingnya (peran wanita) itu tampak di dalam beban tanggung jawab yang harus diembannya dan perjuangan berat yang harus ia pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Maka dari itu, di antara kewajiban terpenting kita adalah berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan mempergaulinya dengan baik. Dalam hal ini ia harus lebih diutamakan dari pada ayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya ; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali” [Luqman : 14]

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” [Al-Ahqaf : 15]

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : “Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik ?” Jawab Nabi, “Ibumu” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawab beliau, “Ibumu”, Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi ?” Beliau jawab “Ayahmu” [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari]

Makna yang terkandung di dalam hadits ini adalah bahwa ibu harus mendapat 3x (tiga kali) lipat perbuatan baik (dari anaknya) dibandingkan bapak.

Kedudukan istri dan pengaruhnya terhadap jiwa laki-laki telah dijelaskan oleh ayat berikut ini.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang” [Ar-Rum : 21]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya tentang mawadah wa rahmah mengatakan : “Mawaddah adalah rasa cinta dan Rahmah adalah rasa kasih sayang, karena sesungguhnya seorang laki-laki hidup bersama istrinya adalah karena cinta kepadanya atau karena kasih dan sayang kepadanya, agar mendapat anak keturunan darinya.”

Sesungguhnya ada pelajaran yang sangat berharga dari Khadijah Radhiyallahu’anha (isteri Rasulullah yang pertama) dimana beliau mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentramkan rasa takut yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Malaikat Jibril turun kepadanya dengan membawa wahyu di goa Hira’ untuk pertama kalinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Khadijah dalam keadaan seluruh persendiannya gemetar, seraya bersabda.

“Selimuti aku! Selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku” Maka Khadijah berkata : “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu menjadi hina sama sekali, karena engkau selalu menjalin hubungan silaturahmi, menanggung beban, memberikan bantuan kepada orang yang tak punya, memuliakan tamu dan memberikan pertolongan kepada orang yang berada di pihak yang benar” [Shahih, Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

Kita juga tidak lupa peran Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Isteri yang paling dicintai oleh Rasulullah) dimana para tokoh sahabat Nabi banyak mengambil hadits-hadits dari beliau, dan begitu pula kaum wanita banyak belajar kepadanya tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan mereka. Dan belum lama, yaitu pada zaman Imam Muhammad bin Sa’ud rahimahullah, beliau dinasehati oleh istrinya agar mau menerima dakwah tokoh pembaharu, yaitu Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, ketika Syaikh Muhammad menawarkan dakwah kepadanya. Nasehat sang istri mempunyai pengaruh yang begitu besar sehingga terjadi kesepakatan di antara mereka berdua untuk memperbaharui dakwah dan menyebar luaskannya, (yang hingga kini) kita merasakan pengaruhnya dalam penegakkan Aqidah kepada penduduk Jazirah Arab.

Tidak diragukan lagi bahwa ibu saya pun rahimahullah, mempunyai peran yang sangat besar dan pengruh yang sangat dalam di dalam memberikan dorongan kepada saya untuk giat belajar (menuntut ilmu). Semoga Allah melipat gandakan pahalanya dan memberinya balasan yang terbaik atas jasanya kepada saya.

Dan hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rumah tangga yang dihiasi dengan penuh rasa kasih sayang, rasa cinta, keramahan dan pendidikan yang Islami akan berpengaruh terhadap suami. Ia akan selalu beruntung, dengan izin Allah, di dalam segala urusannya, berhasil di dalam segala usaha yang dilakukannya, baik di dalam menuntut ilmu, perniagaan ataupun pertanian dan lain-lainnya.

Hanya kepada Allah jualah saya memohon agar membimbing kita semua ke jalan yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. [Majmu Fatawa, jilid 3, halaman 348]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 421-424, Darul Haq]

Maka dari itu, saya ingin menyapa para wanita – wanita shaleh. Persiapkanlah diri kalian untuk mewujudkan rumah tangga yang indah, yang dipenuhi dengan kasih sayang. Baik tidaknya rumah tangga, sesungguhnya itu berada ditangan seorang wanita. Baik nya umat Islam, generasi Islam itu karena wanita shaleh yang telah melahirkan nya. Maka bersyukurlah kalian, wahai saudari ku. semoga Allah merahmati mu. Tidak ada yang perhiasan dunia yang paling berharga kecuali Wanita yang Shaleh. Janganlah kalian merendahkan derajat kalian, muliakanlah diri kalian dengan Islam.Wallahu a'lam...


Kiriman Prima Saputra dalam Group Siapa Bilang Belajar Fiqih Wanita itu Susah (Khusus Wanita)

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/wanita-madrasah-pertama.html

Ulama Salaf (terdahulu) rahimahullah berkata, didalam syairnya :“Ibu adalah sekolah pertama.Maka persiapkanlah sebaik – baik nya”

Ini adalah jawaban terhadap pertanyaan yang dimuat didalam majalah Al-Jail, Riyadh. Saudi Arabia, seputar kedudukan wanita di dalam Islam.

Dijawab oleh yang Mulia, Mufti Saudi Arabia, Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

Al-Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata :

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta segenap orang yang menelusuri jejak ajaran mereka hingga hari pembalasan, wa ba’du.

Sesungguhnya wanita muslimah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap Muslim. Dialah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih, Jika ia berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap Muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu.

Kesesatan bangsa-bangsa dan penyimpangannya tidak akan terjadi kecuali karena mereka menjauh dari ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ajaran yang diajarkan oleh para nabi dan rasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah NabiNya (Hadits)” [Diriwayatkan Imam Malik didalam Kitab Al-Muwaththa’]

Didalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kaum wanita sebagai ibu, sebagai istri, sebagai saudara dan sebagai anak. Mereka juga mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban, sedangkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfungsi menjelaskan secara detail.

Urgensi atau pentingnya (peran wanita) itu tampak di dalam beban tanggung jawab yang harus diembannya dan perjuangan berat yang harus ia pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Maka dari itu, di antara kewajiban terpenting kita adalah berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan mempergaulinya dengan baik. Dalam hal ini ia harus lebih diutamakan dari pada ayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya ; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali” [Luqman : 14]

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” [Al-Ahqaf : 15]

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : “Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik ?” Jawab Nabi, “Ibumu” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawab beliau, “Ibumu”, Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi ?” Beliau jawab “Ayahmu” [Shahih, Diriwayatkan oleh Imam Bukhari]

Makna yang terkandung di dalam hadits ini adalah bahwa ibu harus mendapat 3x (tiga kali) lipat perbuatan baik (dari anaknya) dibandingkan bapak.

Kedudukan istri dan pengaruhnya terhadap jiwa laki-laki telah dijelaskan oleh ayat berikut ini.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang” [Ar-Rum : 21]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya tentang mawadah wa rahmah mengatakan : “Mawaddah adalah rasa cinta dan Rahmah adalah rasa kasih sayang, karena sesungguhnya seorang laki-laki hidup bersama istrinya adalah karena cinta kepadanya atau karena kasih dan sayang kepadanya, agar mendapat anak keturunan darinya.”

Sesungguhnya ada pelajaran yang sangat berharga dari Khadijah Radhiyallahu’anha (isteri Rasulullah yang pertama) dimana beliau mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentramkan rasa takut yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Malaikat Jibril turun kepadanya dengan membawa wahyu di goa Hira’ untuk pertama kalinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Khadijah dalam keadaan seluruh persendiannya gemetar, seraya bersabda.

“Selimuti aku! Selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku” Maka Khadijah berkata : “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu menjadi hina sama sekali, karena engkau selalu menjalin hubungan silaturahmi, menanggung beban, memberikan bantuan kepada orang yang tak punya, memuliakan tamu dan memberikan pertolongan kepada orang yang berada di pihak yang benar” [Shahih, Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

Kita juga tidak lupa peran Aisyah Radhiyallahu ‘anha (Isteri yang paling dicintai oleh Rasulullah) dimana para tokoh sahabat Nabi banyak mengambil hadits-hadits dari beliau, dan begitu pula kaum wanita banyak belajar kepadanya tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan mereka. Dan belum lama, yaitu pada zaman Imam Muhammad bin Sa’ud rahimahullah, beliau dinasehati oleh istrinya agar mau menerima dakwah tokoh pembaharu, yaitu Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, ketika Syaikh Muhammad menawarkan dakwah kepadanya. Nasehat sang istri mempunyai pengaruh yang begitu besar sehingga terjadi kesepakatan di antara mereka berdua untuk memperbaharui dakwah dan menyebar luaskannya, (yang hingga kini) kita merasakan pengaruhnya dalam penegakkan Aqidah kepada penduduk Jazirah Arab.

Tidak diragukan lagi bahwa ibu saya pun rahimahullah, mempunyai peran yang sangat besar dan pengruh yang sangat dalam di dalam memberikan dorongan kepada saya untuk giat belajar (menuntut ilmu). Semoga Allah melipat gandakan pahalanya dan memberinya balasan yang terbaik atas jasanya kepada saya.

Dan hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rumah tangga yang dihiasi dengan penuh rasa kasih sayang, rasa cinta, keramahan dan pendidikan yang Islami akan berpengaruh terhadap suami. Ia akan selalu beruntung, dengan izin Allah, di dalam segala urusannya, berhasil di dalam segala usaha yang dilakukannya, baik di dalam menuntut ilmu, perniagaan ataupun pertanian dan lain-lainnya.

Hanya kepada Allah jualah saya memohon agar membimbing kita semua ke jalan yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. [Majmu Fatawa, jilid 3, halaman 348]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 421-424, Darul Haq]

Maka dari itu, saya ingin menyapa para wanita – wanita shaleh. Persiapkanlah diri kalian untuk mewujudkan rumah tangga yang indah, yang dipenuhi dengan kasih sayang. Baik tidaknya rumah tangga, sesungguhnya itu berada ditangan seorang wanita. Baik nya umat Islam, generasi Islam itu karena wanita shaleh yang telah melahirkan nya. Maka bersyukurlah kalian, wahai saudari ku. semoga Allah merahmati mu. Tidak ada yang perhiasan dunia yang paling berharga kecuali Wanita yang Shaleh. Janganlah kalian merendahkan derajat kalian, muliakanlah diri kalian dengan Islam.Wallahu a'lam...


Kiriman Prima Saputra dalam Group Siapa Bilang Belajar Fiqih Wanita itu Susah (Khusus Wanita)

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/wanita-madrasah-pertama.html

»»  READMORE...

^KADO untuk WANITA^


Kiriman dari Abu Farros Fahrozi/Abu Farros Al-Ghulinmawriy

UKHTI APAKAH ENGKAU MENGINGINKAN KEBAHAGIAAN

Ukhti (Saudariku) Muslimah,

Sesungguhnya kebahagiaan itu semuanya ada dalam ketaatan kepada Allah . Kebahagiaan seluruhnya ada di dalam meniti di atas manhaj (jalan) Allah dan di jalan Rasulullah, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab: 71)

Sesungguhnya kesengsaraan (kemalangan) seluruhnya ada dalam kemaksiatan kepada Allah dan kebinasaan seluruhnya ada pada selain manhaj Allah dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36)

Saudariku Muslimah,

Allah telah memuliakanmu, mensucikanmu dan mengangkat kedudukanmu. Tidak ada ajaran manapun yang lebih tinggi mengangkat derajat wanita selain ajaran Islam. Bahkan Allah banyak menurunkan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan masalah wanita di dalam kitab-Nya yang mulia. Sedangkan sebelum Islam, wanita dijadikan barang dagangan yang murah dan hina, bagaikan perhiasan yang tidak ada nilainya. Hina di mata walinya, hina di mata keluarganya, serta dihina kan oleh masyarakat. Oleh karena itu terkadang ia diperlakukan seperti binatang, bahkan perlakuan mereka terhadap binatang lebih baik daripada memperlakukan wanita.

Sesungguhnya engkau, wahai saudariku muslimah, tidak akan mendapatkan kemuliaan kecuali dalam agama ini, maka berpegang teguhlah (dalam agama ini) dan dengarkanlah firman Allah yang telah menceritakan kisah orang terdahulu, mestilah engkau selalu mengingatnya agar engkau memuji Allah atas kenikmatan yang engkau dapatkan.

Allah berfirman:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memelihara dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl: 58-59)

Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya musuh-musuhmu banyak sekali, dan sesungguhnya orang yang ingin me manfaatkanmu dalam upaya meruntuhkan agama, rasa malu dan keutamaan banyak sekali, dan boleh jadi mereka itu dari kalangan kita sendiri.

Salah seorang dari mereka (musuh-musuh Islam) berkata: "Tidaklah keadaan negeri Timur menjadi makmur melainkan apabila seorang pemudi melepaskan hijabnya dan membenamkan (menguburkan) Al-Qur'an dengannya!". Sesungguhnya dengan hal itu mereka ingin mengeluarkanmu menuju kesengsaraan dan kebinasaan, mereka mengajakmu menuju neraka Jahanam. Maka jika engkau menyambut mereka, mereka akan melemparkanmu ke dalamnya. Mereka ingin agar engkau menjadi wanita durhaka, yang berbuat fasiq dan membuka aurat.

Mereka berusaha menggiringmu. Mereka menunggumu dengan sangat sabar agar engkau melepaskan abaya (pakaian muslimah) serta melepaskan hijab dengan segala konsekuensinya, yaitu melepaskan keimanan, rasa malu dan kesucian, kemudian engkau akan meninggalkan kewajiban-kewajiban lain nya. Pada saat itu, perbuatanmu tersebut menyenangkan mereka (para musuh), mereka mempermainkanmu seperti anak-anak bermain dengan bola, dan mereka mempermainkanmu seperti anjing-anjing bermain-main dengan bangkai, semoga Allah menjagamu dari mereka.

Saudariku Muslimah,

Buatlah mereka menjadi marah, dengan tidak memperhatikan mereka dan tidak mendengar kan mereka, buatlah mereka menjadi bersedih dengan keteguhanmu berpegang pada agama mu, dengan menjaga rasa malumu dan beriltizam (berpegang teguh) dengan hijabmu.

Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya sebagian wanita meggambar kan bahwa sufur adalah membuka muka wanita saja, tidak...tidak ini saja. Sesungguhnya termasuk sufur adalah pakaian yang ketat, yang pendek dan yang tipis. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai wangi-wangian ketika

keluar menuju tempat-tempat yang di dalamnya ada laki-laki. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai pantalon (celana panjang). Apakah engkau tidak mendengar sabda Nabi :

Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya... (dan beliau menyebutkan): Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim).

Para ulama berkata: makna para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang adalah bahwa mereka memakai pakaian akan tetapi pakaian-pakaian itu ketat, tipis atau tidak menutup seluruh badan.

Saudariku Muslimah,

Agamamu adalah bentengmu yang amat kokoh, (untuk) memelihara kesucian, rasa malumu dan kemuliaanmu. Agamamu memerintahkanmu untuk berhijab dan memiliki rasa malu. Kapan saja engkau meninggalkan perintah ini, maka engkau akan ditimpa adzab Allah di akhirat sedangkan di dunia engkau menjadi mangsa serigala-serigala manusia yang ingin mencuri kesucianmu agar engkau merasakan kesusahan (kesedihan) sepanjang hidup. Akan tetapi sebagian akhwat -semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka- telah mendengar seruan serigala-serigala itu, tetapi malah bekerja untuk mereka.

Saudariku Muslimah,

Takutlah engkau kepada Allah dan laksanakanlah tugas-tugas yang Dia wajibkan kepadamu. Apabila hatimu mengeras maka ingatlah bencana yang telah menimpa orang lain. Engkau tidak tahu kapan bencana itu akan datang kepadamu, sesungguhnya itu adalah maut yang pasti terjadi.

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali-Imran: 185)

Ingatlah wahai wanita hamba Allah, pada hari di mana engkau diletakkan dalam kuburan, dalam lubang yang gelap dan sepi itu. Ingatlah ketika sangkakala ditiup dan engkau dikumpulkan bersama para makhluk dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan kebingungan. Matahari benar-benar akan dekat darimu kurang lebih satu mil, dan engkau akan dipanggil dengan namamu diantara para makhluk untuk dihisab.

Bagaimana keadaanmu ketika itu wahai hamba Allah Di mana persiapanmu wahai wanita yang lalai Apakah mode-mode pakaian akan bermanfaat ketika itu Apakah lagu, sinetron, film dan majalah-majalah (yang merusak) akan bermanfaat Apakah barang-barang permata akan bermanfaat

Tidak demi Allah, hal itu tidak akan memberikan manfaat sedikitpun selamanya. Yang bermanfaat hanyalah kebaikan-kebaikan, dan amal-amal shalih, setelah mendapatkan rahmat dari Rabb bumi dan langit.

Ingatlah, bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang bercampur baur dengan laki-laki. Bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang keluar (rumah) dalam keadaan memakai wangi-wangian menuju pasar-pasar dan jalan-jalan. Bertaqwalah kepada Allah wahai engkau yang menawarkan dirimu untuk berkhalwat (menyendiri) dengan laki-laki asing.

Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita melainkan setan menjadi orang yang ketiga (diantara) keduanya.

Bertaqwalah kepada Allah wahai engaku yang mendidik anak-anakmu dengan pendidikan yang tidak baik/ benar. Engkau tidak mengingatkan mereka dengan ketaatan kepada Allah, tidak menasehati mereka dan tidak menunjukkan mereka pada apa-apa yang dapat memberikan manfaat di dunia dan di akhirat. Bertaqwalah kepada Allah dan jagalah dirimu dari menjadi barang mainan orang-orang yang lemah iman. Bertaqwalah kepada Allahdan kembalilah pada petunjuk sebelum datang suatu hari yang pada hari itu hati-hati dan pandangan-pandangan (mata) dibalikkan. Ketahuilah bahwa adzab Allah sangat keras, dan sesungguhnya engkau -demi Allah- tidak akan kuat merasakan adzab neraka.

Sesungguhnya gunung-gunung jika dilewatkan pada neraka maka dia akan meleleh karena kuatnya panas neraka. Maka dimana engkau wanita yang lemah dibandingkan dengan gunung-gunung yang perkasa dan kokoh Sesungguhnya engkau mampu bersabar atas rasa lapar dan hau, dan engkau mampu bersabar atas bahaya. Akan tetapi demi Allah yang tidak ada ilah (sesembahan) selain Dia, tidak ada kesabaran bagimu terhadap neraka. Ingatlah, mka selamatkanlah dirimu dari neraka sebelum terlambat. Ketahuilah bahwa dunia ini pasti akan berlalu dan akhirat adalah tempat yang kekal.

Semoga Allah memberimu taufiq kepada apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepadamu dari apa-apa yang engkau dengar dan engkau baca, dan semoga Allah menjadikannya sebagai pendukung bagimu bukan sebagai bumerang atasmu.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad , keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.

Maraji': as-Sunnah edisi 08/ Th V/ 1422H - 2001M (disunting)

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/kado-untuk-wanita.html


Kiriman dari Abu Farros Fahrozi/Abu Farros Al-Ghulinmawriy

UKHTI APAKAH ENGKAU MENGINGINKAN KEBAHAGIAAN

Ukhti (Saudariku) Muslimah,

Sesungguhnya kebahagiaan itu semuanya ada dalam ketaatan kepada Allah . Kebahagiaan seluruhnya ada di dalam meniti di atas manhaj (jalan) Allah dan di jalan Rasulullah, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Al-Ahzab: 71)

Sesungguhnya kesengsaraan (kemalangan) seluruhnya ada dalam kemaksiatan kepada Allah dan kebinasaan seluruhnya ada pada selain manhaj Allah dan Rasul-Nya, Allah berfirman:

Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36)

Saudariku Muslimah,

Allah telah memuliakanmu, mensucikanmu dan mengangkat kedudukanmu. Tidak ada ajaran manapun yang lebih tinggi mengangkat derajat wanita selain ajaran Islam. Bahkan Allah banyak menurunkan hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan masalah wanita di dalam kitab-Nya yang mulia. Sedangkan sebelum Islam, wanita dijadikan barang dagangan yang murah dan hina, bagaikan perhiasan yang tidak ada nilainya. Hina di mata walinya, hina di mata keluarganya, serta dihina kan oleh masyarakat. Oleh karena itu terkadang ia diperlakukan seperti binatang, bahkan perlakuan mereka terhadap binatang lebih baik daripada memperlakukan wanita.

Sesungguhnya engkau, wahai saudariku muslimah, tidak akan mendapatkan kemuliaan kecuali dalam agama ini, maka berpegang teguhlah (dalam agama ini) dan dengarkanlah firman Allah yang telah menceritakan kisah orang terdahulu, mestilah engkau selalu mengingatnya agar engkau memuji Allah atas kenikmatan yang engkau dapatkan.

Allah berfirman:

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memelihara dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl: 58-59)

Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya musuh-musuhmu banyak sekali, dan sesungguhnya orang yang ingin me manfaatkanmu dalam upaya meruntuhkan agama, rasa malu dan keutamaan banyak sekali, dan boleh jadi mereka itu dari kalangan kita sendiri.

Salah seorang dari mereka (musuh-musuh Islam) berkata: "Tidaklah keadaan negeri Timur menjadi makmur melainkan apabila seorang pemudi melepaskan hijabnya dan membenamkan (menguburkan) Al-Qur'an dengannya!". Sesungguhnya dengan hal itu mereka ingin mengeluarkanmu menuju kesengsaraan dan kebinasaan, mereka mengajakmu menuju neraka Jahanam. Maka jika engkau menyambut mereka, mereka akan melemparkanmu ke dalamnya. Mereka ingin agar engkau menjadi wanita durhaka, yang berbuat fasiq dan membuka aurat.

Mereka berusaha menggiringmu. Mereka menunggumu dengan sangat sabar agar engkau melepaskan abaya (pakaian muslimah) serta melepaskan hijab dengan segala konsekuensinya, yaitu melepaskan keimanan, rasa malu dan kesucian, kemudian engkau akan meninggalkan kewajiban-kewajiban lain nya. Pada saat itu, perbuatanmu tersebut menyenangkan mereka (para musuh), mereka mempermainkanmu seperti anak-anak bermain dengan bola, dan mereka mempermainkanmu seperti anjing-anjing bermain-main dengan bangkai, semoga Allah menjagamu dari mereka.

Saudariku Muslimah,

Buatlah mereka menjadi marah, dengan tidak memperhatikan mereka dan tidak mendengar kan mereka, buatlah mereka menjadi bersedih dengan keteguhanmu berpegang pada agama mu, dengan menjaga rasa malumu dan beriltizam (berpegang teguh) dengan hijabmu.

Saudariku Muslimah,

Sesungguhnya sebagian wanita meggambar kan bahwa sufur adalah membuka muka wanita saja, tidak...tidak ini saja. Sesungguhnya termasuk sufur adalah pakaian yang ketat, yang pendek dan yang tipis. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai wangi-wangian ketika

keluar menuju tempat-tempat yang di dalamnya ada laki-laki. Sesungguhnya termasuk sufur adalah memakai pantalon (celana panjang). Apakah engkau tidak mendengar sabda Nabi :

Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya... (dan beliau menyebutkan): Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim).

Para ulama berkata: makna para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang adalah bahwa mereka memakai pakaian akan tetapi pakaian-pakaian itu ketat, tipis atau tidak menutup seluruh badan.

Saudariku Muslimah,

Agamamu adalah bentengmu yang amat kokoh, (untuk) memelihara kesucian, rasa malumu dan kemuliaanmu. Agamamu memerintahkanmu untuk berhijab dan memiliki rasa malu. Kapan saja engkau meninggalkan perintah ini, maka engkau akan ditimpa adzab Allah di akhirat sedangkan di dunia engkau menjadi mangsa serigala-serigala manusia yang ingin mencuri kesucianmu agar engkau merasakan kesusahan (kesedihan) sepanjang hidup. Akan tetapi sebagian akhwat -semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka- telah mendengar seruan serigala-serigala itu, tetapi malah bekerja untuk mereka.

Saudariku Muslimah,

Takutlah engkau kepada Allah dan laksanakanlah tugas-tugas yang Dia wajibkan kepadamu. Apabila hatimu mengeras maka ingatlah bencana yang telah menimpa orang lain. Engkau tidak tahu kapan bencana itu akan datang kepadamu, sesungguhnya itu adalah maut yang pasti terjadi.

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali-Imran: 185)

Ingatlah wahai wanita hamba Allah, pada hari di mana engkau diletakkan dalam kuburan, dalam lubang yang gelap dan sepi itu. Ingatlah ketika sangkakala ditiup dan engkau dikumpulkan bersama para makhluk dalam keadaan tidak memakai alas kaki, telanjang dan kebingungan. Matahari benar-benar akan dekat darimu kurang lebih satu mil, dan engkau akan dipanggil dengan namamu diantara para makhluk untuk dihisab.

Bagaimana keadaanmu ketika itu wahai hamba Allah Di mana persiapanmu wahai wanita yang lalai Apakah mode-mode pakaian akan bermanfaat ketika itu Apakah lagu, sinetron, film dan majalah-majalah (yang merusak) akan bermanfaat Apakah barang-barang permata akan bermanfaat

Tidak demi Allah, hal itu tidak akan memberikan manfaat sedikitpun selamanya. Yang bermanfaat hanyalah kebaikan-kebaikan, dan amal-amal shalih, setelah mendapatkan rahmat dari Rabb bumi dan langit.

Ingatlah, bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang bercampur baur dengan laki-laki. Bertaqwalah kepada Allah, wahai engkau yang keluar (rumah) dalam keadaan memakai wangi-wangian menuju pasar-pasar dan jalan-jalan. Bertaqwalah kepada Allah wahai engkau yang menawarkan dirimu untuk berkhalwat (menyendiri) dengan laki-laki asing.

Tidaklah seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita melainkan setan menjadi orang yang ketiga (diantara) keduanya.

Bertaqwalah kepada Allah wahai engaku yang mendidik anak-anakmu dengan pendidikan yang tidak baik/ benar. Engkau tidak mengingatkan mereka dengan ketaatan kepada Allah, tidak menasehati mereka dan tidak menunjukkan mereka pada apa-apa yang dapat memberikan manfaat di dunia dan di akhirat. Bertaqwalah kepada Allah dan jagalah dirimu dari menjadi barang mainan orang-orang yang lemah iman. Bertaqwalah kepada Allahdan kembalilah pada petunjuk sebelum datang suatu hari yang pada hari itu hati-hati dan pandangan-pandangan (mata) dibalikkan. Ketahuilah bahwa adzab Allah sangat keras, dan sesungguhnya engkau -demi Allah- tidak akan kuat merasakan adzab neraka.

Sesungguhnya gunung-gunung jika dilewatkan pada neraka maka dia akan meleleh karena kuatnya panas neraka. Maka dimana engkau wanita yang lemah dibandingkan dengan gunung-gunung yang perkasa dan kokoh Sesungguhnya engkau mampu bersabar atas rasa lapar dan hau, dan engkau mampu bersabar atas bahaya. Akan tetapi demi Allah yang tidak ada ilah (sesembahan) selain Dia, tidak ada kesabaran bagimu terhadap neraka. Ingatlah, mka selamatkanlah dirimu dari neraka sebelum terlambat. Ketahuilah bahwa dunia ini pasti akan berlalu dan akhirat adalah tempat yang kekal.

Semoga Allah memberimu taufiq kepada apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya, dan semoga Allah memberikan manfaat kepadamu dari apa-apa yang engkau dengar dan engkau baca, dan semoga Allah menjadikannya sebagai pendukung bagimu bukan sebagai bumerang atasmu.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad , keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya.

Maraji': as-Sunnah edisi 08/ Th V/ 1422H - 2001M (disunting)

sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/kado-untuk-wanita.html

»»  READMORE...

^UNTUK semua WANITA^


Kiriman dari Abu Farros Fahrozi/Abu Farros Al-Ghulinmawriy

Wahai ukhti muslimat…..Kembali, saya kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din. Mengingat ketidaksungguhan kalian dalam belajar. Bahkan saya melihat sebagian dari kalian berpaling dari menuntut ilmu. Dan ini merupakan satu keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, Insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalal Al-Qur`an, disertai ta`liq sederhana tentangnya.

Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,Allah telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan:

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran:18).

Berkata Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya, "Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah berfirman juga kepada Nabi-Nya n tentang kemuliaan ilmu."

"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaahaa:114)

Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan sesuatu itu, sebagaimana Allah telah memerintahkan Nabi -Nya untuk meminta tambahan ilmu.

"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" (QS. az-Zumar : 9)

Imam Al Qurtubi berkata, "Menurut Az-Zujaj, maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui"

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."(Q.S al-Mujaadilah: 11)

Imam Al Qurtubi berkata, "Maksud ayat di atas yaitu, dalam hal pahala di akhirat dan kemuliaan di dunia, Allah akan meninggikan orang beriman dan berilmu di atas orang yang tidak berilmu. Kata Ibnu Mas`ud, dalam ayat ini Allah memuji para ulama. Dan makna bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, adalah derajat dalam hal agama, apabila mereka melakukan perintah- perintah Allah"

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." (QS.al- Faathir: 28)

Ibnu Katsir berkata, "Maksud ayat di atas adalah, orang yang takut kepada Allah dengan benar hanyalah ulama yang mengenal-Nya, karena semakin mengenal Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui,Yang memiliki sifat kesempurnaan dan kebaikan, maka pengenalan, pengetahuan, dan ketakutan terhadap-Nya akan semakin sempurna."

"Sesungguhnya al-Quran adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi. Dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dholim." ( QS. al-Ankabut: 49).

Ibnul Qoyyim berkata tentang ayat di atas, "Allah menyanjung ahli ilmu, memuji dan memuliakan mereka dengan menjadikan kitab-Nya sebagai ayat-ayat yang nyata/jelas dalam dada mereka. Ini merupakan kekhususan dan kebaikan bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya."

Dan kata Imam Al Qurtubi, "Maksud ayat tersebut adalah, Al Qur`an bukanlah sihir atau syair, seperti yang dikatakan oleh orang-orang batil. Akan tetapi Al Qur`an adalah tanda dan dalil Allah. Dalam Al Qur`an agama dan segala hukum-Nya dapat diketahui. Seperti itulah al-Qur`an di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu. Mereka adalah para sahabat Muhammad. Dan orang-orang yang beriman kepadanya. Mereka berilmu, mampu memahami dan membedakan antara kalamullah, perkataan manusia dan ucapan-ucapan setan."

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122)

Imam Al-Qurtubi berkata, "Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan perang semua, padahal Nabi tidak, sehingga mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka, setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka. Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah. Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib `ain"

Dan katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (QS. Thaahaa:114)

Berkata Ibnu `Uyainah, "Rasulullah senantiasa bertambah ilmunya sampai Allah mewafatkan beliau"Berkata Ibnul Qayyim, "Dengan hal ini cukuplah merupakan kemuliaan bagi ilmu, yaitu bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan berupa ilmu"

"Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. al-An`am: 83)

Imam Al Qurtubi berkata,"Firman Allah, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat yaitu dengan ilmu, kepahaman dan imamah (kepemimpinan) serta kekuasaan"

"Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS. An Nisaa` :113)

Berkata Ibnul Qoyyim tentang ayat di atas,"Allah menyebutkan kenikmatan-kenikmatan dan karunia-Nya kepada Rasul dan Allah menjadikan kenikmatan dan karunia-Nya yang paling agung adalah memberinya Al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang belum diketahuinya."

Demikianlah Ukhti Muslimah,Semoga pemaparan saya kali ini bermanfaat bagi ukhti semuanya. Harapan saya semoga kita masih mendapat kesempatan untuk meniti ilmu-Nya yang maha luas.Amin

Dari Majalah As Sunnah Edisi 04 Tahun VI tahun 2002M/1423H


sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/untuk-semua-wanita.html


Kiriman dari Abu Farros Fahrozi/Abu Farros Al-Ghulinmawriy

Wahai ukhti muslimat…..Kembali, saya kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din. Mengingat ketidaksungguhan kalian dalam belajar. Bahkan saya melihat sebagian dari kalian berpaling dari menuntut ilmu. Dan ini merupakan satu keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, Insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalal Al-Qur`an, disertai ta`liq sederhana tentangnya.

Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,Allah telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan:

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran:18).

Berkata Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya, "Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah berfirman juga kepada Nabi-Nya n tentang kemuliaan ilmu."

"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaahaa:114)

Maka seandainya ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, sungguh Allah akan memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan akan sesuatu itu, sebagaimana Allah telah memerintahkan Nabi -Nya untuk meminta tambahan ilmu.

"Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui" (QS. az-Zumar : 9)

Imam Al Qurtubi berkata, "Menurut Az-Zujaj, maksud ayat tersebut yaitu orang yang tahu berbeda dengan orang yang tidak tahu, demikian juga orang taat tidaklah sama dengan orang bermaksiat. Orang yang mengetahui adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ilmu serta mengamalkannya. Dan orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu serta tidak mengamalkannya, maka ia berada dalam barisan orang yang tidak mengetahui"

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."(Q.S al-Mujaadilah: 11)

Imam Al Qurtubi berkata, "Maksud ayat di atas yaitu, dalam hal pahala di akhirat dan kemuliaan di dunia, Allah akan meninggikan orang beriman dan berilmu di atas orang yang tidak berilmu. Kata Ibnu Mas`ud, dalam ayat ini Allah memuji para ulama. Dan makna bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, adalah derajat dalam hal agama, apabila mereka melakukan perintah- perintah Allah"

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama." (QS.al- Faathir: 28)

Ibnu Katsir berkata, "Maksud ayat di atas adalah, orang yang takut kepada Allah dengan benar hanyalah ulama yang mengenal-Nya, karena semakin mengenal Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Berkuasa, Yang Maha Mengetahui,Yang memiliki sifat kesempurnaan dan kebaikan, maka pengenalan, pengetahuan, dan ketakutan terhadap-Nya akan semakin sempurna."

"Sesungguhnya al-Quran adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi. Dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dholim." ( QS. al-Ankabut: 49).

Ibnul Qoyyim berkata tentang ayat di atas, "Allah menyanjung ahli ilmu, memuji dan memuliakan mereka dengan menjadikan kitab-Nya sebagai ayat-ayat yang nyata/jelas dalam dada mereka. Ini merupakan kekhususan dan kebaikan bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya."

Dan kata Imam Al Qurtubi, "Maksud ayat tersebut adalah, Al Qur`an bukanlah sihir atau syair, seperti yang dikatakan oleh orang-orang batil. Akan tetapi Al Qur`an adalah tanda dan dalil Allah. Dalam Al Qur`an agama dan segala hukum-Nya dapat diketahui. Seperti itulah al-Qur`an di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu. Mereka adalah para sahabat Muhammad. Dan orang-orang yang beriman kepadanya. Mereka berilmu, mampu memahami dan membedakan antara kalamullah, perkataan manusia dan ucapan-ucapan setan."

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu`min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122)

Imam Al-Qurtubi berkata, "Ayat ini merupakan pokok tentang wajibnya menuntut ilmu. Karena tidak seharusnya orang mukmin itu pergi ke medan perang semua, padahal Nabi tidak, sehingga mereka meninggalkan beliau sendiri. Mereka membatalkan keinginan mereka, setelah mengetahui tidak dibolehkannya pergi secara keseluruhan. Beberapa orang dari tiap-tiap golongan, agar tetap tinggal bersama Nabi untuk mempelajari agama. Sehingga apabila orang- orang yang berperang itu telah kembali, mereka bisa mengabarkan dan meyebarkan pengetahuan ilmu mereka. Dalam ayat ini juga terdapat kewajiban untuk memahami Al Kitab dan Sunnah. Dan kewajiban tersebut adalah kewajiban kifayah bukan wajib `ain"

Dan katakanlah:"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan". (QS. Thaahaa:114)

Berkata Ibnu `Uyainah, "Rasulullah senantiasa bertambah ilmunya sampai Allah mewafatkan beliau"Berkata Ibnul Qayyim, "Dengan hal ini cukuplah merupakan kemuliaan bagi ilmu, yaitu bahwa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan berupa ilmu"

"Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. al-An`am: 83)

Imam Al Qurtubi berkata,"Firman Allah, Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat yaitu dengan ilmu, kepahaman dan imamah (kepemimpinan) serta kekuasaan"

"Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS. An Nisaa` :113)

Berkata Ibnul Qoyyim tentang ayat di atas,"Allah menyebutkan kenikmatan-kenikmatan dan karunia-Nya kepada Rasul dan Allah menjadikan kenikmatan dan karunia-Nya yang paling agung adalah memberinya Al Kitab dan hikmah serta mengajarkan kepadanya apa yang belum diketahuinya."

Demikianlah Ukhti Muslimah,Semoga pemaparan saya kali ini bermanfaat bagi ukhti semuanya. Harapan saya semoga kita masih mendapat kesempatan untuk meniti ilmu-Nya yang maha luas.Amin

Dari Majalah As Sunnah Edisi 04 Tahun VI tahun 2002M/1423H


sumber :

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/untuk-semua-wanita.html

»»  READMORE...

Kado Special Tuk “Pintu Surgaku”


KISAH NYATA

Dari Majalah Nikah Vol.4 No. 12 Maret 2006“Semoga bisa menjadikan inspirasi dan menyemangati kita tuk berdakwah, terutama pada orang-orang yg kita cintai”

Jalan dakwah memang tidak selalu mulus. Banyak kerikil tajam dan duri yang menghadang jalanku dalam mengamalkan Islam yang benar, dan mendakwahkannya pada orang-orang yang kucintai. Hanya karena doa, kesabaran, serta kasih sayang-Nyalah, bila dakwahku, khususnya pada wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan.

Ada benturan dan gesekan yang dahsyat dari keluarga, teman, maupun masyarakat, ketika awal-awal mengamalkan Islam secara benar. Mulai dari di tuduh LDII yang sesat karena celana nggantung di atas mata kaki, diomeli tidak bemasyarakat karena tidak ikut acara bid’ah tahlilan dan yasinan, sampai dianggap “sok suci” tatkala menolak berjabat tangan, berdekatan ataupun membonceng dengan lawan jenis.

Sebenernya tak hanya itu saja, sewaktu SMA aku pernah dinasehati secara pribadi dikantor wakasek untuk tidak ikut-ikutan “Islam radikal” dan memilih Islam yang “moderat” kata mereka. Semua tantangan itu masih sangat ringan dibanding beberapa ikhwan yang harus dboikot keluarga dan masyarakat, bahkan sampai diusir dari rumah. Lebih-lebih para ikhwan yang istrinya bercadar, mendapatkan tantangan yan cukup sengit demi menyelamatkan akidah dan manhaj.

Begitulah pahit getirnya perjuangan ini. Walaupun demikian, bukan berarti dakwah Islam yang salah. Memang awal-awal revolusi penuh dengan luka dan air mata. Begitulah sunnatulloh bagi pejuang. Bukankan Rasululloh saja dahulu pernah dilempari batu hingga kotoran? Namun beliau shalallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabar hingga akhirnya Islam berkembang dan memperoleh kemenangan.


Saat Harus Memulai

Canggung rasanya ketika harus memulai dakwah pada keluarga dan masyarakat. Kecanggungan ini dipicu dari latar belakang yang serba jahiliyah dan blank dalam agama. Apalagi statusku yang masih tergantung pada orang tua. Terkadang muncul kesan menggurui dan sok tahu bila berhadapan dengan orang tua.

Demi Alloh, sebenarnya telah lama aku mendamba hidayah menjamah harum dalam keluargaku. Air mata ini telah mengering dan hati ini telah meronta melihat Abi dan Ummi terjerumus dalam syirik, kering dari Tilawatil Quran, berpakaian tapi telanjang, serta amalan-amalan khurafat, bid’ah, dan tahayyul.

Akhirnya, dengan azzam yang membuncah, kuberanikan diri mendakwahi Abi dan Ummi. Tentunya dengan hikmah Mau’idzah Hasanah. Awalnya mereka sering marah-marah. Namun dengan kekuatan doa disertai kesabaran dan contoh yang nyata perlahan semua mencair. Aku lebih memilih sikap daripada kata-kata. Selain tidak ada kesan menggurui, akhlaq itu lebih memesona di obyek dakwah. Kadang kita sering diuji dengan kata-kata kita sendiri yang akhirnnya menjadi boomerang dalam dakwah.

Ketika Dia Tertatih- tatih

Subhanalloh, perasaan haru dan lega menyemburat dalam jiwa. Tetesan air matapun mengalir deras meredam duka tatkala menyaksikan Ummi tampak khusyuk dalam sholatnya. Sejuk dan damai hati ini melihat keluarga terwarnai dengan indahnya pelangi Islam. Allahu Akbar!!Aku tawarkan pengajian di malam Ahad untuk meningkatkan kualitas dan keistiqomahan. Pengajian bersama membaca dan memahami Al Quran. Gayung bersambut dari kalangan ibu-ibu, terutama dari ummi sendiri, untuk belajra iqra’ bersama.

Sekitar 12 orang ibu-ibu kami ajak. Pertemuan rutin untuk mengajipun berjalan lancar. Alhamdulillah. Banyak hikmah yang kupetik dari hasil dakwah yang mulai tampak ini. Sekarang harus berpikir dewasa, aku mesti bermain perasaan keibuan untuk menyampaikan maksud dakwah pada mereka.

Seiring berjalannya waktu, sunnatullah berjalan bagi hamba-hambaNya. Beberapa orang mulai terlempar dari rel tarbiyah ini. Dari 12 orang, akhirnya hanya tinggal ummi dan tiga orang yang masih istiqomah hingga bisa membaca Al Quran dari awal betul-betul nol.

Ya Illahi, betapa bahagianya melihat bibir mungil Ummi melafalkan ayat-ayat suci Al Quran. Menangis mata ini mendengar tilawah Ummi yang kadang tertatih-tatih dengan wajah khusyu’ yang tertunduk. Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar!!

Pengajian Iqra beralih ke kajian singkat tafsir. Dari sinilah transfer manhaj dan aqidah mulai bergulir indah, setelah sedikit tahsin Al Quran. Booming perubahan mulai meledak.Alhamdulillah, Ummi mulai memahami Islam secara benar. Kini aku tak lagi mendapat wejangan etika tidak ikut acara adat yang berbau syirik dan bid’ah dalam masyarakat.

Jilbab Teruntuk Ummi

Dari lubuk hati yang paling dalam. Aku tak tega melihat orang tua yang mengandung dan menyusuiku bodoh dalam agama. Anak mana yang rela menyaksikan orang yang mendekap, menimang dan mempertaruhkan nyawanya, terbuka auratnya diapu semua mata orang?Ummi tersayang, ananda memang tak bisa memberimu rumah tingkat yang membuatmu terpikat, dan mobil mewah yang mengantarmu ke tempat indah, ataupun emas permata yang menjadikanmu bekaca-kaca. Hanya dua jilbab besar ini sebagai kado untukmu di bulan Ramadhan tahun lalu. Walau tak sebanding dengan kasih sayangmu, mudah-mudahan bisa menjadi hujjahku di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga bisa menaungimu dari panasnya neraka di hari akhir nanti. Hari ketika setiap diri lari dai saudaranya, dan lari dari ibu dan ayahnya (‘Abasa : 34-35). Ummi, anakmu ini sangat beharap untuk berkumpul denganmu di jannah Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga ….

Kepada “Pintu Surgaku”Kini, karena aku menuntut ilmu di kota hujan, terpaksalah harus rela berjauhan dengan Ummi. Ummi tercinta, maafkan aku…telah banyak kata-kata kasarku yang telah melukaimu.Ummi yang baik, maafkan jika tak ada waktu lagi untuk belajar tafsir bersama, mendengar keluh kesahmu saat memasak di dapur dan membantumu mengambil air.

Ummu, ada bening menemaniku. Saat teringatmu membaca Al Quran atau melihat penampilanmu dengan jilbab yang kuberikan. Bukannya aku cengeng Ummi, tapi biarlah sesekali bening air mata ini membasahi keringnya kerinduan dalam jiwa.

Ummi, hanya secumbu kecupan di keningmu saat aku meninggalkanmu menuntut ilmu di kota hujan ini. Saat itu kulihat sosok keteguhanmu dibalik pandangan matamu yang beraca-kaca karena pepisahan. Yakinlah Ummi, pepisahan ini hanya sementara dan hanya akan menambah manis dan wanginya keinduan dalam jiwa. Ummi, keridhaanmu menjadi peneguh dalam perantauan ini. Keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam perjuangan ini, dan untaian doa dalam tangismu menjadi penyejuk hati di tengah samudera kehidupan yang keras ini.

Ummi, percayalah takkan kubiarkan hari tuamu menyendiri dipanti jompo. Aku tahu Ummi, itu adalah kedurhakaan besar. Engkau adalah pintu surgaku di dunia ini. Karena itulah Alloh melebihkanmu dalam birrul walidain daripada laki-laki. Ummi..memang jasamu tiada terbatas waktu walau kusucikan dirimu dengan banjiran keringat dan air mata.

Satu hal yang kupinta Ummi….sembahlah Alloh saja dan jauhilah segala kesyirikan, bagiku itu lebih dari sekedar cukup. Demi Alloh…Ummi!

Ummi..jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu.


sumber :

http://akhsa.wordpress.com/2008/01/30/kado-special-tuk-“pintu-surgaku”/

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/kado-special-tuk-pintu-surgaku.html


KISAH NYATA

Dari Majalah Nikah Vol.4 No. 12 Maret 2006“Semoga bisa menjadikan inspirasi dan menyemangati kita tuk berdakwah, terutama pada orang-orang yg kita cintai”

Jalan dakwah memang tidak selalu mulus. Banyak kerikil tajam dan duri yang menghadang jalanku dalam mengamalkan Islam yang benar, dan mendakwahkannya pada orang-orang yang kucintai. Hanya karena doa, kesabaran, serta kasih sayang-Nyalah, bila dakwahku, khususnya pada wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan.

Ada benturan dan gesekan yang dahsyat dari keluarga, teman, maupun masyarakat, ketika awal-awal mengamalkan Islam secara benar. Mulai dari di tuduh LDII yang sesat karena celana nggantung di atas mata kaki, diomeli tidak bemasyarakat karena tidak ikut acara bid’ah tahlilan dan yasinan, sampai dianggap “sok suci” tatkala menolak berjabat tangan, berdekatan ataupun membonceng dengan lawan jenis.

Sebenernya tak hanya itu saja, sewaktu SMA aku pernah dinasehati secara pribadi dikantor wakasek untuk tidak ikut-ikutan “Islam radikal” dan memilih Islam yang “moderat” kata mereka. Semua tantangan itu masih sangat ringan dibanding beberapa ikhwan yang harus dboikot keluarga dan masyarakat, bahkan sampai diusir dari rumah. Lebih-lebih para ikhwan yang istrinya bercadar, mendapatkan tantangan yan cukup sengit demi menyelamatkan akidah dan manhaj.

Begitulah pahit getirnya perjuangan ini. Walaupun demikian, bukan berarti dakwah Islam yang salah. Memang awal-awal revolusi penuh dengan luka dan air mata. Begitulah sunnatulloh bagi pejuang. Bukankan Rasululloh saja dahulu pernah dilempari batu hingga kotoran? Namun beliau shalallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabar hingga akhirnya Islam berkembang dan memperoleh kemenangan.


Saat Harus Memulai

Canggung rasanya ketika harus memulai dakwah pada keluarga dan masyarakat. Kecanggungan ini dipicu dari latar belakang yang serba jahiliyah dan blank dalam agama. Apalagi statusku yang masih tergantung pada orang tua. Terkadang muncul kesan menggurui dan sok tahu bila berhadapan dengan orang tua.

Demi Alloh, sebenarnya telah lama aku mendamba hidayah menjamah harum dalam keluargaku. Air mata ini telah mengering dan hati ini telah meronta melihat Abi dan Ummi terjerumus dalam syirik, kering dari Tilawatil Quran, berpakaian tapi telanjang, serta amalan-amalan khurafat, bid’ah, dan tahayyul.

Akhirnya, dengan azzam yang membuncah, kuberanikan diri mendakwahi Abi dan Ummi. Tentunya dengan hikmah Mau’idzah Hasanah. Awalnya mereka sering marah-marah. Namun dengan kekuatan doa disertai kesabaran dan contoh yang nyata perlahan semua mencair. Aku lebih memilih sikap daripada kata-kata. Selain tidak ada kesan menggurui, akhlaq itu lebih memesona di obyek dakwah. Kadang kita sering diuji dengan kata-kata kita sendiri yang akhirnnya menjadi boomerang dalam dakwah.

Ketika Dia Tertatih- tatih

Subhanalloh, perasaan haru dan lega menyemburat dalam jiwa. Tetesan air matapun mengalir deras meredam duka tatkala menyaksikan Ummi tampak khusyuk dalam sholatnya. Sejuk dan damai hati ini melihat keluarga terwarnai dengan indahnya pelangi Islam. Allahu Akbar!!Aku tawarkan pengajian di malam Ahad untuk meningkatkan kualitas dan keistiqomahan. Pengajian bersama membaca dan memahami Al Quran. Gayung bersambut dari kalangan ibu-ibu, terutama dari ummi sendiri, untuk belajra iqra’ bersama.

Sekitar 12 orang ibu-ibu kami ajak. Pertemuan rutin untuk mengajipun berjalan lancar. Alhamdulillah. Banyak hikmah yang kupetik dari hasil dakwah yang mulai tampak ini. Sekarang harus berpikir dewasa, aku mesti bermain perasaan keibuan untuk menyampaikan maksud dakwah pada mereka.

Seiring berjalannya waktu, sunnatullah berjalan bagi hamba-hambaNya. Beberapa orang mulai terlempar dari rel tarbiyah ini. Dari 12 orang, akhirnya hanya tinggal ummi dan tiga orang yang masih istiqomah hingga bisa membaca Al Quran dari awal betul-betul nol.

Ya Illahi, betapa bahagianya melihat bibir mungil Ummi melafalkan ayat-ayat suci Al Quran. Menangis mata ini mendengar tilawah Ummi yang kadang tertatih-tatih dengan wajah khusyu’ yang tertunduk. Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar!!

Pengajian Iqra beralih ke kajian singkat tafsir. Dari sinilah transfer manhaj dan aqidah mulai bergulir indah, setelah sedikit tahsin Al Quran. Booming perubahan mulai meledak.Alhamdulillah, Ummi mulai memahami Islam secara benar. Kini aku tak lagi mendapat wejangan etika tidak ikut acara adat yang berbau syirik dan bid’ah dalam masyarakat.

Jilbab Teruntuk Ummi

Dari lubuk hati yang paling dalam. Aku tak tega melihat orang tua yang mengandung dan menyusuiku bodoh dalam agama. Anak mana yang rela menyaksikan orang yang mendekap, menimang dan mempertaruhkan nyawanya, terbuka auratnya diapu semua mata orang?Ummi tersayang, ananda memang tak bisa memberimu rumah tingkat yang membuatmu terpikat, dan mobil mewah yang mengantarmu ke tempat indah, ataupun emas permata yang menjadikanmu bekaca-kaca. Hanya dua jilbab besar ini sebagai kado untukmu di bulan Ramadhan tahun lalu. Walau tak sebanding dengan kasih sayangmu, mudah-mudahan bisa menjadi hujjahku di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga bisa menaungimu dari panasnya neraka di hari akhir nanti. Hari ketika setiap diri lari dai saudaranya, dan lari dari ibu dan ayahnya (‘Abasa : 34-35). Ummi, anakmu ini sangat beharap untuk berkumpul denganmu di jannah Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga ….

Kepada “Pintu Surgaku”Kini, karena aku menuntut ilmu di kota hujan, terpaksalah harus rela berjauhan dengan Ummi. Ummi tercinta, maafkan aku…telah banyak kata-kata kasarku yang telah melukaimu.Ummi yang baik, maafkan jika tak ada waktu lagi untuk belajar tafsir bersama, mendengar keluh kesahmu saat memasak di dapur dan membantumu mengambil air.

Ummu, ada bening menemaniku. Saat teringatmu membaca Al Quran atau melihat penampilanmu dengan jilbab yang kuberikan. Bukannya aku cengeng Ummi, tapi biarlah sesekali bening air mata ini membasahi keringnya kerinduan dalam jiwa.

Ummi, hanya secumbu kecupan di keningmu saat aku meninggalkanmu menuntut ilmu di kota hujan ini. Saat itu kulihat sosok keteguhanmu dibalik pandangan matamu yang beraca-kaca karena pepisahan. Yakinlah Ummi, pepisahan ini hanya sementara dan hanya akan menambah manis dan wanginya keinduan dalam jiwa. Ummi, keridhaanmu menjadi peneguh dalam perantauan ini. Keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam perjuangan ini, dan untaian doa dalam tangismu menjadi penyejuk hati di tengah samudera kehidupan yang keras ini.

Ummi, percayalah takkan kubiarkan hari tuamu menyendiri dipanti jompo. Aku tahu Ummi, itu adalah kedurhakaan besar. Engkau adalah pintu surgaku di dunia ini. Karena itulah Alloh melebihkanmu dalam birrul walidain daripada laki-laki. Ummi..memang jasamu tiada terbatas waktu walau kusucikan dirimu dengan banjiran keringat dan air mata.

Satu hal yang kupinta Ummi….sembahlah Alloh saja dan jauhilah segala kesyirikan, bagiku itu lebih dari sekedar cukup. Demi Alloh…Ummi!

Ummi..jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu.


sumber :

http://akhsa.wordpress.com/2008/01/30/kado-special-tuk-“pintu-surgaku”/

http://thalibatun.blogspot.com/2010/02/kado-special-tuk-pintu-surgaku.html

»»  READMORE...